Biografi imam AN NAWAWI

Assalamualaikum wr wb
بسم الله الرحمن الرحيم
Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah, kami memohon pertolongan kepada dan 
memohon ampunan kepada-Nya. Kami juga memohon perlindungan kepada Allah dari 
keburukan-keburukan jiwa-jiwa kami dan juga keburukan-keburukan perbuatan-perbuatan 
kami. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak akan ada yang dapat 
menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan oleh Allah maka tidak akan ada yang 
dapat memberinya petunjuk. Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, satu-satunya 
Tuhan dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Saya juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba 
dan utusan Allah

 Wa ba'du, pada kesempatan kali ini saya ingin berbagi sedikit tentang biografi ulama fuqaha' yg bermazhab Syafi'iyah, yaitu IMAM NAWAWI.
Mungkin Anda yg didayah atau di pesantren telah banyak mendengar sejarah_sejarah imam Nawawi, tapi saya pada kli ini saya berbagi sedikit haya untuk mengenang kita kpd ulama ulama kit yg telah berkiprah untuk agama.
 Oke langsung saja..


BIOGRAFI IMAM NAWAWI

Beliau adalah seorang imam, hafal ratusan ribu hadits, ahli fiqih, ahli hadits, penolong 
as-Sunnah, pembungkam bid‟ah, dan yang menghidupkan ilmu agama. Nama lengkapnya 
adalah Abu Zakariya Yahya bin Mari bin Hasan bin Husain bin Muhammad bin Jum‟ah bin 
Hizam an-Nawawi ad-Dimasyqi.
Beliau dilahirkan di desa Nawa di daerah Jauran pada tahun 631 H. Syaikh Hizam 
adalah kakeknya yang mendatangi daerah al-Jauran di desa Nawa sesuai dengan kebiasaan 
orang arab kemudian beliau menetap disana. Syaikh Hizam dianugrahi oleh Allah Ta‟ala 
banyak keturunan sehingga menjadi kelompok yang cukup besar. Salah satu dari 
keturunannya tersebut adalah imam yang mulia ini.
Ketika imam Nawawi masih kecil, sebagian orang-orang yang memiliki anugrah dari 
Allah Ta‟ala melihat dan mendapatkan firasat bahwasanya pada diri Nawawi kecil terdapat 
kecerdasan yang sangat luar biasa dan sangat berpotensi untuk menjadi orang besar. 
Kemudian mereka memanggil orang tua Nawawi dan berwasiat kepadanya agar mengarahkan 
putranya tersebut untuk menghafal al-Qur‟an. Sejak saat itu, mulailah Nawawi kecil untuk 
menghafal al-Qur‟an, belajar kepada orang-orang mulia di daerahnya, meninggalkan 
permainan, dan selalu menghabiskan waktunya untuk membaca al-Qur‟an serta 
menghafalnya. Suatu ketika, sebagian orang melihat bahwasanya anak-anak kecil yang 
sebaya dengannya enggan untuk bermain bersama Nawawi kecil, karena merasa dikucilkan 
oleh teman-temannya, Nawawi kecil berlari sambil menangis. Sejak saat itulah beliau mulai 
serius dan bersungguh-sungguh untuk membaca al-Qur‟an, dia melakukan hal tersebut 
sampai beliau benar-benar hafal al-Qur‟an secara sempurna yang pada waktu itu usianya 
sudah mnedekati baligh. 
Ketika beliau berusia Sembilan belas tahun, orang tuanya mengirimkannya ke kota 
Damaskus untuk mencari ilmu dan beliau dimasukkan oleh orang tuanya di madrasah ar￾Rawahiah, saat itu bertepatan dengan tahun 649 H. Ketika dimadrasah tersebut, imam 
Nawawi menghafalkan kitab at-Tanbih cuma dalam waktu empat bulan setengah. Beliau 
mempelajari kitab al-Muhadzab karya imam asy-Syairazi kepada gurunya yaitu syaikh al￾Kamal Ishak bin Ahmad bin Utsman al-Maghribi al-Maqdisi di sisa tahun tersebut. Beliau 
adalah guru pertama imam Nawawi dalam masalah ilmu fiqih. Imam Nawawi selalu 
menyertai gurunya tersebut dalam setiap waktu, bahkan sebagian orang merasa takjub dengan 
kedekatan dan kesibukan beliau bersama gurunya, sehingga beliau tidak pernah bergaul 
dengan manusia lain selain gurunya tersebut. Beliau sangat mencintai gurunya, oleh karena 
apa yang telah dilakukannya tersebut, imam Nawawi menjadi murid yang paling pandai di 
antara murid-murid gurunya yang lain.
Guru-guru Imam Nawawi
Imam Nawawi banyak memiliki guru, diantaranya adalah; syaikh Abdul Aziz bin 
Muhammad al-Anshari, syaikh Zainuddin bin Abd ad-Daim, syaikh Imaduddin bin Abdul Karim al-Harastani, syaikh Zainuddin Abi al-Baqa Khalid bin Yusuf al-Maqdisi an-Nabulisi, 
syaikh Jamaluddin bin ash-Shairafi, syaikh Taqiyyuddin bin al-Yasr, syaikh Syamsuddin bin 
Abi Umar, dan guru-guru lain yang seangkatan dengan mereka. Imam Nawawi belajar ilmu 
Fiqh al-Hadits pada syaikh ahli tahqiq Abi Ishak Ibrahim bin Isa al-Muradi al-Andalusi, 
beliau belajar ilmu fiqih pada syaikh al-Kamal Ishak bin Ahmad bin Utsman al-Maghribi al￾Maqdisi, pada syaikh Syamsuddin bin Abdurrahman bin Nuh, dan pada syaikh Izzuddin al￾Irbili dan yang selain mereka. 
Sepanjang hidupnya, imam Nawawi selalu menyibukkan diri dengan menyusun kitab, 
menyebarkan ilmu, beribadah, berdizikir, sabar dalam penghidupan yang sangat sederhana 
baik dari makan beliau dan pakaian yang beliau kenakan.
Murid-murid Imam Nawawi
Dari usaha-usaha yang telah beliau lakukan, imam Nawawi menelorkan banyak 
ulama-ulama besar yang cukup terkenal, diantaranya; syaikh al-Khathib Shadruddin 
Sulaiman al-Ja‟fari, syaikh Syihabuddin al-Ardabi, syaikh Syihabuddin bin Ja‟wan, syaikh 
„Alauddin al-„Athar, syaikh Ibnu Abi Fatah, syaikh al-Mazzi, dan masih banyak lagi yang 
lainnya.
Kesungguhan Imam Nawawi
Setiap hari imam Nawawi melakukan dua belas pembacaan kitab pada guru-guru 
beliau. Dua kali pembacaan kitab al-Wasith karya imam al-Ghazali, satu kali pembacaan 
kitab al-Muhadzab karya imam asy-Syairazi, satu kali pembacaan kitab al-Jam‟u bain ash￾Shahihain karya imam Humaidi, satu kali pembacaan kitab shahih Muslim, satu kali 
pembacaan kitab al-Luma‟ karya syaikh Ibnu Jini, satu kali pembacaan kitab Ishlah al￾Manthiq karya syaikh Ibnu as-Sikkit, satu pembacaan ilmu tasrif, satu kali pembacaan ilmu 
ushul fiqih, satu pembacaan ilmu Asma‟ ar-Rijal, dan satu kali pembacaan ilmu ushuluddin. 
Dalam setiap kitab yang beliau pelajari, imam Nawawi selalu memberikan keterangan 
masing-masing pembahasannya, menjelaskan redaksi-redaksinya, menguraikan istilah￾istilahnya. Beliau tidak pernah menyia-nyiakan waktunya kecuali dengan menyibukkan diri 
dalam mencari ilmu, sehingga ketika beliau di jalan untuk berangkat ataupun pergi menuju 
majlis belajarnya, beliau gunakan waktu tersebut untuk mengulang-ulang pelajarannya. Imam 
Nawawi selalu melatih dirinya dan nafsunya, selalu bersikap wara‟, membersihkan dirinya 
dari segala keburukan, sehingga dengan perjuangannya tersebut dalam waktu yang cukup 
singkat beliau telah menghafal banyak hadits dan berbagai macam fan ilmu, menjadi salah 
satu orang penting dalam mazdhab imam asy-Syafi‟i rahimahullah dan imam-imam yang 
lain. Imam Nawawi kemudian menjadi guru pada madrasah Dar al-Hadits al-Asyrafiyyah al￾Ula, beliau mengajar pada madrasah tersebut tanpa mengambil gaji yang menjadi haknya.
Keteguhan jiwanya sangat berperan penting dalam pencapaian beliau, taqdir Allah 
Ta‟ala telah mempersiapkan beliau untuk menjadi seorang imam, segala apa yang sulit untuk orang lain Allah mudahkan untuk beliau. Imam Nawawi berhasil gemilang dalam belajarnya 
tidak lepas dari tiga hal penting, yaitu;
1. Beliau melalui hidupnya dengan tidak berkeluarga sehingga banyak waktu yang 
tersedia bagi beliau untuk belajar. Selain itu beliau juga dianugrahi kecerdasan 
yang luar biasa. 
2. Beliau berada pada lingkungan yang mudah untuk mengakses banyak kitab-kitab 
para ulama sehingga dengan fasilitas tersebut beliau mudah untuk menelaah hasil 
pemikiran-pemikiran mereka.
3. Beliau memiliki niat yang mulya dalam belajarnya, selalu bersikap wara‟, zuhud, 
mengamalkan perbuatan-perbuatan yang baik dan dari perbuatan-perbuatan 
tersebut terpancarlah cahaya-cahaya dalam dirinya.
Walaupun masa hidup beliau tergolong pendek yaitu beliau hanya dianugrahi Allah 
Ta‟ala umur empat puluh lima tahun, tetapi dalam masa yang cukup singkat tersebut, dari diri 
imam Nawawi banyak muncul kebaikan-kebaikan dan keberkahan yang sangat luar biasa 
sekali.
Pelajaran-pelajaran Imam Nawawi
Imam Nawawi banyak mempelajari berbagai kitab para ulama dari guru-gurunya, 
diantaranya adalah Kutub as-Sittah yang terdiri dari; Sahih al-Bukhari, Sahih Muslim, Sunan 
at-Tirmidzi, Sunan Abu Dawud, Sunan an-Nasai, Sunan Ibnu Majah, Muwatha‟ Imam Malik, 
Musnad asy-Syafi‟I, Musnad Ahmad bin Hambal, Sunan ad-Darimi, Musnad Abi Ya‟la al￾Mushili, Sahih Abi „Awanah, Sunan ad-Daruquthni, Sunan al-Baihaqi, Syarh as-Sunnah 
karya imam al-Baghawi, Ma‟alim at-Tanzil kitab tafsir yang juga karya imam al-Baghawi, 
Amal al-Yaum wa al-Lailah karya Ibnu as-Sini, al-Jami‟ li al-Adab ar-Rawi wa as-Sami‟ 
karya syaikh Khathib al-Baghdadi, ar-Risalah al-Qusyairiyyah, al-Ansab karya syaikh Zubair 
bin Bikar, dan kitab-kitab lain yang masih banyak lagi.
Sifat Dan Akhlak Imam Nawawi 
Imam Nawawi rahimahullah adalah orang agung dalam keilmuan dan amalnya, 
memiliki sikap wara‟, zuhud, sabar dalam kesederhanaan hidup juga sabar dalam banyak 
macam kebaikan, tidak pernah melewatkan sedikitpun masa dalam hidupnya kecuali dalam 
ketaatan kepada Allah Ta‟ala, dalam proses belajarnya beliau memenuhi kebutuhan hidupnya 
dari beasiswa yang diberikan oleh madrasah ar-Rawahiyah, terkadang beliau menyedekahkan 
sebagian dari beasiswanya tersebut, beliau sangat terkenal dalam ibadah dan karya-karyanya, 
beliau selalu mengajak kepada kebaikan dan selalu mencegah segala kemungkaran. Beliau 
mendatangi para raja dan pemimpin untuk dalam rangka menasehati mereka dan beliau tidak 
takut sedikitpun atas akibat yang beliau lakukan tersebut. Apabila beliau tidak dapat 
mendatangi mereka, beliau mengirimkan nasehatnya dalam sebuah surat. Beliau memiliki 
ketenangan jiwa dan kewibawaan apabila sedang membahas suatu permasalahan dengan ulama lain. Selalu mengikuti ajaran para ulama as-Salaf ash-Shalif dari kalangan Ahl as￾Sunnah wa al-Jama‟ah. Beliau adalah orang yang banyak menghabiskan waktunya untuk 
membaca al-Qur‟an, berdzikir kepada Allah Azza wa Jall, memalingkan diri dari dunia, dan 
selalu menghadapkan wajahnya pada akherat.
Karya-karya Imam Nawawi
Banyak sekali karya yang dihasilkan oleh imam Nawawi, di antaranya adalah; Syarh 
Sahih Muslim, al-Irsyad, at-Taqrib fi Umum al-Hadits, Tahdzib al-Asma‟ wa al-Lughat, al￾Manasik ash-Shughra, al-Manasik al-Kubra, Minhaj ath-Thalibin, Bustan al-Arifin, 
Khalashah al-Ahkam fi Muhimmat as-Sunan wa Qawaid al-Islam, Raudlah ath-Thalibin fi 
Umdah al-Muftin, Syarh al-Muhadzab, Riyadl ash-Shalihin, Hilyah al-Abrar wa Syi‟ar al￾Akhyar fi Talkhish ad-Da‟awat wa al-Adzkar yang terkenal dengan sebutan kitab al-Adzkar 
an-Nawawi, at-Tibyan fi Adab Hamalah al-Qur‟an yang saat ini ada di hadapan kita, dan 
masih banyak lagi karya-karya beliau yang menyimpan banyak sekali manfaat dan faedah.
Wafatnya Imam Nawawi
Pada akhir umurnya, imam Nawawi bepergian menuju kampung halamannya di desa 
Nawa, lalu beliau menziarahi al-Quds dan al-Khalil kemudian kembali lagi ke kampungnya. 
Setelah sampai dikampungnya dan berada di kediaman kedua orang tuanya, tiba-tiba beliau 
jatuh sakit lalu beliau wafat pada malam rabu bulan rajab bertepatan dengan tahun 672 H dan 
dimakamkan di kampung halamannya yaitu di desa Nawa dan makam beliau sangat masyhur 
sekali. Tanda-tanda menjelang beliau wafat, para penduduk Damaskus banyak yang tertimpa 
kesusahan. 
Semoga Allah Ta‟ala merahmati beliau dengan rahmat yang luas dan menempatkan 
beliau pada derajat yang tinggi di surga.
آمين يارب العالمين

Komentar